• Rabu, 10 Agustus 2022

Kemenperin Libatkan 70 Industri MGS Sediakan Minyak Goreng

- Rabu, 12 Januari 2022 | 12:21 WIB
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika saat berfoto bersama dengan pelaku industri minyak goreng kemasan. (foto : kemenperin)
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika saat berfoto bersama dengan pelaku industri minyak goreng kemasan. (foto : kemenperin)

infosumsel.ID - Menjaga produktivitas industri minyak goreng sawit (MGS) Kementerian Perindustrian mendorong pelaku industri MGS untuk terlibat dalam program harga minyak goreng di masyarakat.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan untuk menjaga stok produk minyak goreng untuk masyarakat yang ditargetkan 6 bulan ke depan sebanyak 1,2 miliar dan akan diperpanjang sesuai kebutuhan. Program distribusi kemasan MGS sederhana ini didukung oleh industri MGS dan Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (APRINDO).

“Kebijakan ini merupakan wujud nyata dari upaya pemerintah untuk mendukung penyediaan pangan yang terjangkau bagi masyarakat,” kata Putu, Selasa (11/1/2022).

Dalam program tersebut, 70 MGS Industries terlibat untuk menyediakan kemasan minyak goreng sederhana ini, dengan dukungan sekitar 200 pengemas.

“Untuk industri MGS yang terlibat dalam program pemerintah ini, Kemenperin akan mengendurkan SNI wajib MGS bagi industri MGS yang menggunakan merek MINYAKITA. Jadi, jika ada perusahaan industri yang terdaftar dalam program pengadaan MGS dengan merek MINYAKITA, kita akan fasilitasi percepatan sertifikasi SNI-nya,” ujarnya.

Dalam rangka melihat kesiapan sektor industri minyak goreng dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat, Dirjen Industri Agro telah melakukan kunjungan kerja ke sejumlah produsen, antara lain PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP). di Jakarta, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) di Bekasi. , dan PT Multimas Nabati Asahan di Serang, Banten.

“Kami mengapresiasi upaya dan komitmen para pelaku industri minyak goreng yang telah mendukung penuh kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga,” ujarnya. Menurut Putu, pihaknya juga telah menerima berbagai masukan dari para pelaku industri agar implementasi kebijakan tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai target.

Menurut Putu, selama ini industri hilir sawit yang berasal dari CPO mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. “Industri kelapa sawit telah menunjukkan kemajuan hilir yang sangat baik. Saat ini ada 168 jenis produk hilir kelapa sawit, sedangkan pada 2011 hanya 54 jenis,” imbuhnya.

Secara total, ekspor minyak sawit dan produk turunannya mencapai 33,1 juta ton per tahun dari total produksi 53 juta ton per tahun. Pada tahun 2021, rasio volume ekspor antara bahan baku CPO dan produk hilir akan mencapai 9,27% berbanding 90,73%, sedangkan selama periode 2016-2020, rata-rata rasio ekspor bahan baku terhadap produk hilir sekitar 20% berbanding 80 %. .

Halaman:

Editor: Beni Martha Daya

Terkini

X