SUMSEL RAYA

Pasutri Lansia Kurang Perhatian Pemerintah Ogan Ilir

Tujuh Tahun Tinggal Di Kandang Ayam

Pasutri lansia, Sulaiman (65) dan Nurhayati (60) tinggal di rumah tak layak huni yang beralamat Desa Teluk Kecapi, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. (foto : sumsel24)
Pasutri lansia, Sulaiman (65) dan Nurhayati (60) tinggal di rumah tak layak huni yang beralamat Desa Teluk Kecapi, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. (foto : sumsel24)

I Ogan Ilir - Sepasang suami istri lanjut usia (pasutri) di Kabupaten Ogan Ilir selama tujuh tahun kurang mendapatkan perhatian pemerintah setempat. Pasalnya selama tujuh tahun pasangan lanjut usia ini harus tinggal bersama ayam di gubuk reot.

“Kehidupan mereka seperti ini salah satu faktor kurangnya perhatian pemerintah. Selama tujuh tahun mereka bertahan hidup tidur bersama ayam di gubuk reot tak layak huni seperti ini,” kata Zaenal, warga sekitar ditemui wartawan, Selasa (15/6/2021).

Menurut Zaenal, kondisi tinggal pondok atau kandang ayam milik Sulaiman di Desa Teluk Kecapi Kecamatan pemulutan in dampak nyata kurangnya sentuhan dari pemerintahan setempat.

“Kalau pemerintah perduli, tidak akan mungkin sampai 7 tahun sama sekali tidak ada perubahan. Dinding dan atap rumah hanya dilapisin daun nipah yang sudah sangat memprihatinkan. Rumah itu sudah sangat tidak layak untuk dihuni,” katanya.

Tak hanya tidak mendapatkan perhatian tempat tinggal, pasangan lanjut ini juga tidak pernah mendapatkan bantuan seperti bantuan sosial program keluarga harapan (PKH) dan lainnya. Rumah mereka, kata dia, hanya tinggal menunggu robohnya saja. Dia meyakini apabila ada angin kencang rumah tersebut pasti roboh.


“Mereka bertahan hidup hanya dengan bekerja keras saja menerima jasa upahan merawat kebun orang. Tidak ada bantuan dari pemerintah atau program seperti PKH dan lainnya yang mereka terima.Rumah itu juga tinggal menunggu waktu saja, ada angin kencang selesai sudah tuh rumah disapunya,” katanya.

Sebelumnya, pasutri lansia, Sulaiman (65) dan Nurhayati (60) tinggal di rumah tak layak huni yang beralamat Desa Teluk Kecapi, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. Keduanya merupakan warga miskin yang terpaksa tinggal di kandang ayam atau rumah tak permanen yang dinding dan atapnya terbuat dari daun nipah sudah sejak keduanya menikah.

“Kami menikah sudah tujuh tahun. Sejak itulah kami tinggal disini. Pondok ini luasnya sekitar 12 meter,” kata Sulaiman ketika ditemui wartawan di kediamannya, Senin (14/6/2021).

Bahkan, saat wartawan mencoba masuk ke dalam kediaman keduanya yang berada 1,5 meter dari atas tanah itu, tercium bau yang tidak sedap. Bau tersebut mengarah ke beberapa karung yang isi di dalamnya hewan peliharaan yakni ayam.

“Kami tinggal sama ayam. Karena tidak ada lagi tempat jadi terpaksa. Kami tidur, makan dan masak di sini,” katanya

Editor: Beni Martha Daya