NASIONAL

Polisi Tetapkan Pegawai Apotek Sebagai Tersangka

Jual Obat Terapi Covid Lebihi Net

Kasatreskrim Polres Metro Bekasi AKBP Andi Oddang (tengah) menunjukkan barang bukti kasus penjualan obat di atas harga eceran tertinggi di Lobbi Mapolrestro Bekasi, Kamis (29/7/2021) (foto : IST)
Kasatreskrim Polres Metro Bekasi AKBP Andi Oddang (tengah) menunjukkan barang bukti kasus penjualan obat di atas harga eceran tertinggi di Lobbi Mapolrestro Bekasi, Kamis (29/7/2021) (foto : IST)

I Bekasi - Kedapatan menjual obat Covid 19 di atas Harga Eceran Tertinggi empat pegawai Apotek ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Metro Bekasi terancam hukuman lima tahun penjara.

"Empat tersangka masing-masing RH, RM, IDS, dan RW kami tetapkan tersangka kasus penjualan obat tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi," kata Kasatreskrim Polres Metro Bekasi, AKBP Andi Oddang dikutip dari infoindonesia.id, Jumat (30/7/2021).

Dia mengatakan tersangka RH merupakan pegawai apotek BL di kawasan Jalan Industri Kecamatan Cikarang Utara sedangkan tersangka RM, IDS, dan RW merupakan pegawai apotek MF di Jalan Raya Imam Bonjol, Kecamatan Cikarang Barat.

"Keempat tersangka itu bekerja sebagai karyawan hingga asisten apoteker. Tidak menutup kemungkinan pemilik apotek juga kami tetapkan tersangka, tergantung perkembangan penyelidikan nanti," jelasnya.

Polisi menjerat keempat tersangka dengan Pasal 62 Junto 10 huruf (a) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman pidana paling lama lima tahun atau pidana denda maksimal Rp2 miliar.


Kasus tersebut terungkap berkat laporan dari masyarakat. Petugas kemudian menindaklanjuti laporan itu dengan melakukan penyelidikan ke lokasi kejadian.

"Ternyata benar, mereka menjual obat, khususnya obat anti virus di atas harga eceran tertinggi yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan," ujarnya.

Menurut Andi, para tersangka terbukti menjual obat jenis Fluvir 75 miligram seharga Rp 27.500 sedangkan HET obat tersebut Rp 26.000 dan menjualnya secara eceran seharga Rp 5.000 per tablet dari HET Rp 1.700.

Mereka juga menjual obat Azithromycin 500 miligram kepada masyarakat seharga Rp 13.333 per tablet dari HET Rp 1.700 per tablet.

Para tersangka mengakui perbuatannya itu demi meraup keuntungan lebih besar. Terlebih obat terapi COVID-19 kini tengah diburu masyarakat seiring meningkatnya jumlah kasus positif.

"Instruksi Kapolri juga sangat jelas agar dilakukan penindakan jika ada apotek yang menjual obat diatas harga eceran tertinggi. Tersangka tidak dilakukan penahanan, apotek juga tidak disegel karena sesuai Surat Edaran Kapolri terkait masalah ini agar peredaran obatan-obatan COVID-19 ini tidak terganggu," jelasnya.

Dari tempat kejadian perkara petugas mengamankan barang bukti berupa delapan strip atau 48 tablet obat Azithromycin 500 gram dan satu lembar nota pembelian atas tiga strip Azithromycin 500 gram dari apotek MF.

Sementara dari apotek BL barang buktinya 10 tablet obat Fluvir 75 miligram, lima tablet Azithromycin 500 miligram, faktur pembelian beserta invoice, dan kuitansi penjualan satu boks obat Fluvir 75 miligram, dan lima tablet Azithromycin 500 miligram.

Editor: Beni Martha Daya