SUMSEL RAYA

Hujan, Petani Karet di Empat Lawang jadi Pengangguran

Imbas curah hujan beberapa pekan terakhir membuat petani karet di Kabupaten Empat Lawang tak dapat menyadap karet sehingga membuat petani karet jadi pengangguran. (foto : Fariz/infosumsel.id)
Imbas curah hujan beberapa pekan terakhir membuat petani karet di Kabupaten Empat Lawang tak dapat menyadap karet sehingga membuat petani karet jadi pengangguran. (foto : Fariz/infosumsel.id)

infosumsel.id | Empat Lawang - Imbas curah hujan beberapa pekan terakhir membuat petani karet di Kabupaten Empat Lawang tak dapat menyadap karet. Pasalnya menyadap karet harus dipastikan pohon karet dalam kondisi kering. Hal itu agar getah sadapan dari kulit batang tidak kleuar dari jalur yang sudah dibuat. Namun, ketika kondisi batang pohon karet basah, maka cairan getah karet tidak merembes ke luar dari jalurnya

”Hampir setiap hari hujan terus, membuat kami tidak bisa menyadap karet. Hal ini pasti terjadi setiap  tahun,” kata Kenzo (34), petani karet di Tebing Tinggi.

”Kalau hujan mending nggak usah kerja, karena getahnya gak masuk ke penampungan, keluar dari jalur yang sudah dibuat. Makanya, petani karet kalau hujan terus pasti sedih,” tambahnya.

Akan berbeda, lanjut dia, jika cuaca panas. Mereka masih bisa menyadap setiap hari dan hasilnya masih normal. ”Jadi, meskipun harganya murah, kita masih ada penghasilan. Kalau hujan seperti sekarang, jelas kita terkendala,” tuturnya.

Meski demikian, kata dia, pekerjaan itu tetap mereka tekuni. Caranya, mengakali dengan mengeringkan batang karet menggunakan karung goni, karena penyadap karet jadi satu-satunya pilihan mereka saat ini.


Menurutnya, harga karet belum mengalami kenaikan. Ditambah lagi tidak didukung cuaca yang baik, menyebabkan petani karet kian kesulitan karena penghasilan berkurang. Petani karet sangat bergantung dengan cuaca. Jika sudah memasuki musim hujan, rata-rata aktivitas penyadapan getah karet terhambat.

”Saat ini, harga karet per kilogram sekitar Rp 6.500. Dalam bisa mendapatkan 20-25 kilogram,” katanya.

Editor: Beni Martha Daya