PENDIDIKAN

95 Persen Disetujui Orangtua, SMKN 1 Lahat Lakukan PTM

 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Lahat sebelum melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) telah mengantongi sedikit 95 persen persetujuan dari orangtua peserta didik.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Lahat sebelum melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) telah mengantongi sedikit 95 persen persetujuan dari orangtua peserta didik.

| Lahat - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Lahat sebelum melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) telah mengantongi sedikit 95 persen persetujuan dari orangtua peserta didik. 

Sebelum PTM dilaksanakan, Kepala SMK Negeri 1 Lahat Abdul Rahmad M Pd melalui Waka Humas Syahfiral menuturkan, pihak sekolah sudah menyampaikan surat kepada orangtua peserta didik baik itu melalui pesan whatsapp grup maupun secara manual rencana pelaksanaan PTM. 

"95 persen wali murid siswa mengizinkan dan 5 persen belum mengizinkan. Hal itu tentu wajar saja karena kemungkinan wali murid masih ada yang khawatir," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (2/9/2021). 

Bahkan dilanjutkan Syahfiral, sebelum PTM digelar tentu saja dilakukan sosialisasi dulu dengan bertahap di gedung aula SMK Negeri 1 Lahat, mulai dari Kelas 10 dan saat ini Kelas 11, besok untuk Kelas 12.

"Sebelum PTM siswa kita kumpulan dulu di aula mengensi PTM disekolah karena kita sedikit beda dengan sekolah lain," ucap Syahfiral. 


Dijelaskan Syahfiral, untuk SMK Negeri 1 Lahat dibagi dalam romble A dan B, dalam satu bulan terdapat empat minggu, untuk minggu pertama siswa kelas 10 dan 12 romble A, minggu kedua siswa kelas 10 dan 12 romble B, untuk minggu ketiga siswa kelas 10 dan 11 romble A dan minggu keempat siswa kelas 10 dan 11 romble B. 

"Jadi memang sedikit beda, PTM tetap berjalan dan daring juga jalan, misalnya siswa yang romble A tidak masuk namun tetap belajar di rumah secara daring," jelasnya. 

Memang dikatakan Syahfiral, kenapa siswa kelas 10 lebih banyak belajar ketimbang kelas 12 dikarenakan siswa kelas 10 merupakan murid baru dan siswa kelas 12 lebih banyak praktek. 

"Secara logika praktek tidak bisa daring sehingga siswa kelas 12 harus lebih banyak praktek karena tidak lama siswa kelas 12 akan melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL)," tambahnya. 

Editor: Jon Morino