SUMSEL RAYA

Produksi Karet Menurun 20 Persen di Musim Penghujan

Hujan yang mengguyur wilayah Sumsel berdampak terhadap hasil produksi getah karet menjadi menurun. (Foto:istimewa)
Hujan yang mengguyur wilayah Sumsel berdampak terhadap hasil produksi getah karet menjadi menurun. (Foto:istimewa)

| OKI - Hujan yang turun beberapa minggu belakangan ini di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) termasuk 
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), rupanya berdampak terhadap hasil produksi getah karet menjadi menurun. 

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kabupaten OKI, Ir Imlan Kairum melalui Kepala Bidang Penyuluhan Pengolahan dan Pemasaran, Zulkarnain SP mengungkapkan, dengan sering turun hujan belakang ini memang berimbas kepada petani karet. Yaitu hasil produksi getah karet mereka menjadi turun maksimal hingga capai 20 persen dari keadaan normal sebelum musim hujan. 

"Kalau secara resmi untuk saat ini belum ada petani yang resmi melaporkan bahwa hasil karet mereka turun. Tapi biasanya jelas turun hasil produksinya termasuk kualitasnya juga, " terang Zulkarnain, Selasa (7/9/2021). 

Sambung dia, akibat musim penghujan bukan hanya hasil produksi yang menurun tetapi juga kualitas getah karetnya menurun. Sehingga jelas harga jual getah karet juga ikut turun. Dengan begitu pendapatan petani karet menjadi berkurang. 

"Terkait turunnya kualitas getah karet dan harga jualnya karena hujan sebenarnya dikeluhkan oleh para petani pastinya. Dengan alasan dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari berasal dari karet, " terang dia. 


Zulkarnain menegaskan, untuk harga jual getah karet dengan kadar 100 persen senilai Rp 19.843/Kg nya, kadar 70 persen senilai Rp 13.890/kg dan untuk kadar rendah 40 persen senilai Rp 7.937/kg nya. Pihaknya berupaya dalam meningkatkan mutu karet petani agar harga jual tinggi. 

Adapun upaya yang dilakukan kata dia, adalah dengan cara mengubah pembeku karet yang direkomendasikan. Dengan begitu membuat getah karet menjadi kualitas baik. Dimana selama ini petani untuk membekukan karet dengan menggunakan pupuk, cuka parah dan tawas. Hasilnya kurang bagus, sehingga membuat harga karet rendah.

"Kita merekomendasikan petani agar gunakan pembeku latek untuk hasil getah karet yang berkualitas agar harga jual tetap tinggi dengan begitu menguntungkan petani, " pungkasnya.  

Editor: