NASIONAL

Parah! Oknum Dokter Campur Sperma Ke Makanan Istri Teman Usai Onani

Seorang Dokter di Semarang lakukan Pelecehan seksual kepada istri temannya, parahnya lagi sperma usai onani dicampurkan ke makanan yang dibuat korban untuk dimakan suami dan korban. (foto : Ilustrasi)
Seorang Dokter di Semarang lakukan Pelecehan seksual kepada istri temannya, parahnya lagi sperma usai onani dicampurkan ke makanan yang dibuat korban untuk dimakan suami dan korban. (foto : Ilustrasi)

I Semarang - Seorang Dokter dilaporkan ke Komisi Nasional Perempuan karena melakukan pelecehan seksual terhadap seorang wanita yang tak lain istri dari teman seprofesinya.

Aksi oknum diketahui setelah korban memasang kamera tersembunyi melihat pelaku melakukan mastrubasi sambil mengintip korban mandi, parahnya lagi pelaku mencampurkan sperma ke dalam makanan yang dibuat korban untuk dimakannya bersama sang suami.

Diketahui pelaku yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di sebuah universitas di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Pendamping korban dari Legal Resource Center untuk Keadlian Jender dan HAM (LRCKJHAM), Nia Lishayati, mengatakan, kejadian tersebut terjadi saat korban bersama suaminya, tinggal dalam satu rumah kontrakan bersama pelaku.

Awalnya kata dia, korban curiga karena tudung saji tempat menyimpan makanan selalu berubah posisi dan berubah bentuk. “Korban semula mencurigai adanya kucing atau tikus di rumah kontrakan tersebut,” ujarnya, Senin (13/9/2021).


Namun kecurigaan tidak terjawab karena tidak adanya binatang peliaraan seperti kucing atau pun tikus di rumah kontrakan itu.

Korban pun kemudian memasang rekaman video melalui gawai yang diletakkan di tempat tersembunyi. Ia pun kaget setelah melihat rekaman video dari iPad miliknya. Ia melihat pelaku mengintip dirinya yang sedang mandi sambil melakukan masturbasi.

Dia melanjutkan, selaku melakukan mastrubasi, pelaku meletakan sperma miliknya ke dalam makanan yang disiapkan korban untuk sang suami.

“Bisa dibayangkan korban dan suami, dalam jangka waktu yang lama memakan makanan yang tercampur dengan sperma. Hal ini membuat korban trauma dan merasa tertekan,” jelasnya.

Nia, mengatakan sebelum tinggal dalam satu rumah kontrakan, korban sebenarnya tidak setuju pelaku tinggal bersama dirinya dan suami. Namun, pelaku bersikeras dengan alasan untuk menghemat biaya. 

Korban yang tidak terima dengan perbuatan pelaku, memutuskan untuk melaporkan kasus tersebut ke Komnas Perempuan, yang merekomendasikan ke LRCKJHAM pada Desember 2020.

“Pelaku sebenarnya juga sudah memiliki istri dan anak. Tapi, istrinya tidak dibawa ke Semarang. Pelaku juga sudah bekerja sebagai dokter dan memiliki klinik di luar Semarang,” tutup Nia.


Video Terkait:
PPATK Pastikan 2 Triliun 'ZONK'
Editor: Beni Martha Daya