NASIONAL

Hampir Setahun Aksi Oknum Dokter Campur Sperma ke Makanan

Aksi oknum dokter di Semarang mencampurkan sperma ke makanan istri teman seprofesinya telah dilakukan sejak Oktober 2020 lalu. (Foto : Ilustrasi)
Aksi oknum dokter di Semarang mencampurkan sperma ke makanan istri teman seprofesinya telah dilakukan sejak Oktober 2020 lalu. (Foto : Ilustrasi)

I Semarang - Aksi oknum dokter di Semarang mencampurkan sperma ke makanan istri teman seprofesinya telah dilakukan sejak Oktober 2020 lalu.

Kejadian yang diduga sejak pelaku tinggal serumah dengan korban dan suaminya. Awalnya korban tak menyetujui pelaku tinggal serumah namun oknum dokter cabul ini bersikeras ingin tinggal dengan mereka dengan alasan untuk menghemat biaya.

“Kejadian tersebut terjadi saat korban bersama suaminya, tinggal dalam satu rumah kontrakan bersama pelaku,” ujar pendamping korban dari Legal Resource Center untuk Keadilan Jender dan HAM (LRCKJHAM), Nia Lishayati dilansir solopos, Selasa (14/9/2021).

“Kejadian itu diduga dilakukan pelaku sejak Oktober 2020,” sambung Nia.

Awal kecurigaan korban tiap akan makan bersama sang suami, tudung saji tempat menyimpan makanan selalu berubah posisi dan berubah bentuk.


“Korban mulanya curiga adan kucing atau tikus di rumah kontrakannya,” ujarnya.

Lantas karena penasaran, Korban mencari tahu dengan memasang rekaman video melalui gawai yang diletakkan di tempat tersembunyi. Namun alangkah terkejutnya setelah melihat rekaman video dari iPad miliknya. Ia melihat pelaku mengintip dirinya yang sedang mandi sambil melakukan masturbasi.

Dia melanjutkan, pelaku melakukan mastrubasi dan meletakan sperma miliknya ke dalam makanan yang disiapkan korban untuk sang suami.

“Bisa dibayangkan korban dan suami, dalam jangka waktu yang lama memakan makanan yang tercampur dengan sperma. Hal ini membuat korban trauma dan merasa tertekan,” pungkasnya.

Korban yang tidak terima dengan perbuatan pelaku, memutuskan untuk melaporkan kasus tersebut ke Komnas Perempuan, yang merekomendasikan ke LRCKJHAM pada Desember 2020.

“Pelaku sebenarnya juga sudah memiliki istri dan anak. Tapi, istrinya tidak dibawa ke Semarang. Pelaku juga sudah bekerja sebagai dokter dan memiliki klinik di luar Semarang,” tutup Nia.

Editor: Beni Martha Daya