LIFESTYLE

Ingin Otak Anak Cerdas? Jangan Lupa Konsumsi Nutri Ini

Memberi asupan bergizi tinggi sejak dalam kandungan merupakan hal penting yang harus dilakukan orang tua. (Foto : ilustrasi)
Memberi asupan bergizi tinggi sejak dalam kandungan merupakan hal penting yang harus dilakukan orang tua. (Foto : ilustrasi)

| Palembang - Memberi asupan bergizi tinggi sejak dalam kandungan merupakan hal penting yang harus dilakukan orang tua. Sebab, asupan gizi pada saat itu bisa menentukan pertumbuhan sel saraf yang dibutuhkan untuk kecerdasan otak.

Selain itu, stimulus atau rangsangan yang diberikan bermanfaat untuk perkembangan saraf anak. Jika kedua hal itu terpenuhi dengan baik, maka tingkat pertumbuhan sel saraf pada usia 2 tahun bisa mencapai hingga 80 persen dari jumlah sel saraf.

Tetapi, jika pada masa emas anak kurang mendapat asupan gizi dan stimulus, pertumbuhan sel sarafnya bisa di bawah 80 persen. Dalam hal ini, orang tua harus mengenali zat gizi yang berkontribusi dalam pertumbuhan sel saraf. Berikut macam-macamnya:

1. Omega-3

Otak mempunyai kadar lemak paling tinggi dibanding organ lain. Pada lemak tersebut, terdapat asam lemak yang berguna sebagai komponen struktural membran otak.


Sekitar 50 persen mengandung asam lemak tak jenuh ganda, lalu sekitar 33 persen mengandung asam lemak omega-3 yang bersifat esensial. Omega-3 ini hanya bisa didapat dari makanan yang dikonsumsi.

Dalam hal ini, ibu hamil dan menyusui harus memenuhi omega-3 sebesar 1-3 gram setiap harinya. Sedangkan, bagi anak usia 1-3 tahun berjumlah 0,3-0,7 gram per hari, dan usia 4 tahun sebesar 0,5-1 gram.

Omega-3 dapat ditemukan pada beberapa jenis ikan. Berikut jumlah kandungan omega-3 pada beberapa ikan:

Ikan kembung: 2,2-2,6 gram per 100 gram
Ikan tuna: 2,1 gram
Ikan salmon: 1,4-1,6 gram
Ikan tongkol: 1,5 gram
Ikan teri: 1,4 gram per 100 gram

Agar tak mengurangi kandungan omega-3 dalam ikan, sebaiknya hindari memasak dengan teknik menggoreng.

2. Vitamin B12, Folat, dan Kolin

Folat dan kolin bermanfaat untuk perkembangan sel saraf. Sedangkan vitamin B12 berguna untuk menghindari penurunan sel saraf. Adapun makanan yang mengandung vitamin B12 adalah telur, yogurt, tuna, keju, susu, daging sapi, dan susu kedelai.

Untuk mendapat kandungan kolin, orang tua bisa memberi makan anak dengan telut, dada ayam, brokoli, dan kacang hijau. Selanjutnya, folat ada dalam sayuran hijau, brokoli, jeruk, alpukat, pisang, kubis, dan telur.

3. Zink

Zink adalah zat gizi penting bagi otak dengan peran dan fungsinya yang penting. Zink adalah kofaktor untuk lebih dari 200 enzim yang mengatur beragam aktivitas metabolisme dalam tubuh termasuk sintesis protein, DNA, dan RNA. Zink berperan dalam neurogenesis/produksi sel saraf dan pematangan sel saraf, serta pembentukan sinaps (tempat persambungan antar sel-sel saraf dan dilepasnya neurotransmitter).

Kekurangan zink dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan kognitif. Sumber zink di antaranya makanan laut, daging, unggas, ikan, dan kacang-kacangan.

4. Zat besi

Zat besi adalah unsur penting dalam produksi dan pemeliharaan mielin (selubung saraf) serta mempengaruhi aktivitas saraf. Zat besi membantu kerja enzim yang penting untuk perangsangan saraf.

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan rendahnya kecerdasan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kekurangan zat besi menurunkan daya konsentrasi anak, menurunkan prestasi anak di sekolah, bahkan menurunkan tingkat produktivitas saat dewasa.

Sumber makanan mengandung zat besi diantaranya sumber protein hewani, sayuran hijau, dan kacang-kacangan.

5. Iodium

Kekurangan iodium menyebabkan rendahnya kecerdasan. Hubungan antara iodium dan perkembangan kognitif telah banyak diteliti. Kekurangan iodium yang parah selama kehamilan dapat menyebabkan kretinisme pada anak-anak. Kretinisme adalah kondisi kekurangan hormon tiroid yang mengakibatkan keterbelakangan mental dan dan kelainan pertumbuhan fisik pada anak.

Manifestasi klinis kretinisme tergantung pada tingkat keparahan defisiensi iodium, di antaranya bisa menyebabkan keterbelakangan mental, bicara, serta gangguan pendengaran dan saraf motorik atas.

Iodium diperlukan untuk produksi hormon tiroid dalam tubuh. Sebanyak 70-80 persen iodium ditemukan di kelenjar tiroid. Kekurangan iodium menyebabkan hipotiroidisme/kekurangan produksi hormon tiroid termasuk triiodothyronin (T3) dan tiroksin (T4).

Hormon tiroid memainkan peran penting dalam perkembangan saraf dan berbagai proses neurologis termasuk diferensiasi/pematangan sel saraf, mielinisasi, dan transmisi saraf. Hormon tiroid mempunyai efek yang nyata pada perkembangan otak, membuat peka sistem saraf dan meningkatkan aktivitas otak. Makanan sumber iodium adalah garam beriodium, makanan laut, telur, dan susu.

Tapi ingat, dalam mewujudkan kecerdasan anak tidak ada satupun zat gizi yang bekerja sendiri dalam tubuh. Zat-zat gizi dalam tubuh adakalanya berinteraksi secara sinergis dan dalam konteks lain, adakalanya berinteraksi secara antagonis.

Konsumsi makanan beragam dengan kandungan gizi yang sinergis akan meningkatkan perkembangan kognitif pada anak-anak dan akan lebih baik dalam menghidari kekurangan zat gizi dibandingkan konsumsi suplemen zat gizi tunggal.

Editor: Jon Morino