SUMSEL RAYA

Harga Melonjak, Produksi Karet Terhambat Cuaca

Harga karet di kabupaten Muba meningkat karena Muba saat ini ada 114 Unit Pengolahan dan Pemasaran BOKAR (UPPB) terbanyak di Indonesia. (Foto : Yuliani/infosumsel.id)
Harga karet di kabupaten Muba meningkat karena Muba saat ini ada 114 Unit Pengolahan dan Pemasaran BOKAR (UPPB) terbanyak di Indonesia. (Foto : Yuliani/infosumsel.id)

| Muba - Para petani karet di wilayah kabupaten Muba kembali mendapat angin segar. Sebab harga karet di kabupaten Muba meningkat karena Muba saat ini ada 114 Unit Pengolahan dan Pemasaran BOKAR (UPPB) terbanyak di Indonesia.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Muba, Akhmad Toyibir mengatakan, terakhir data yang ada di pihaknya kini lateks pekat dgn KKK 60% yang dihasilkan dari UPPB tersebut dibeli dengan harga Rp22.000/kg.

"Harga yang diterima oleh petani lebih besar dari harga petani menjual BOKAR yang saat ini rata 11 smpai Rp12.000 per kg," ujarnya.

Sedangkan harga lateks Rp22.000 per kg dipotong biaya operasional di UPPB sekitar Rp3.000-Rp4.000 per kg. Menurutnya, harga Rp18.000 dari Rp22.000 dikurangi Rp4.000 masih lebih tinggi skitar Rp6 ribu dibanding petani produksi bokar dgn harga rata-rata Rp12.000/ kilonya.

"Karet yang sudah diserap angka pastinya bisa ditanyakan denan pihak PUPR karena data aspal karet yang sudah diproduksi ada di pihak PUPR, dengan rumus untuk lateks pekat atau latek pravulkanisasi yang digunakan sebesar 7/100 atau 7 % dari aspal karetnya," terangnya.


Lanjutnya, keterkaitan dengan aspal karet di Muba sendiri yakni pabrik aspal karet yang dihasilkan dari pabrik tersebut adalah aspal karet berbasis lateks pravulkanisasi, sebagai bahan campuran karetnya adalah latek pekat

"Latek pekat dihasilkan dari UPPB yang memiliki mesin setrifugal salah satunya di UPPB desa Cipta Praja keluang," terangnya.

Salah satu petani karet Irawan mengatakan, saat ini harga karet berada di Rp10.500/Kg. Warga Jalan - Sekayu Pendopo kelurahan Soak Baru ini mengaku selama ini ia menjual hasil sadapan karet ke pembeli pengepul.

"Untuk saat ini penghasilan kami lagi menurun, karena faktor cuaca. Kebanyakan tidak mantang (sadap) karena hujan pagi. Terus kalaupun mantang kadang hasilnya hilang karena hujan tiba-tiba turun yang mengakibatkan getah yang sudah tertampung tumpah bersamaan air hujan," terangnya.

Ia menambahkan, dari kurang lebih 700 batang karet, biasanya menghasilkan 1 kwintal bahkan lebih. Dirinya dan petani karet lain pun berharap harga karet semakin tinggi agar mereka tetap bersemangat.

"Sekarang sekitaran 80-85 per kilo saja seminggu atau sekali sadap. Kalau tidak diganggu hujan bisa lebih banyak," tutupnya.

Editor: Jon Morino