NASIONAL

Alex Noerdin Ditahan di Rutan KPK

Alex Noerdin yang juga anggota DPR RI Komisi I Fraksi Partai Golkar ditahan di rutan KPK sedangkan Muddai Madang di Rutan Salemba cabang Kejagung. (Foto : Kejagung)
Alex Noerdin yang juga anggota DPR RI Komisi I Fraksi Partai Golkar ditahan di rutan KPK sedangkan Muddai Madang di Rutan Salemba cabang Kejagung. (Foto : Kejagung)

I Jakarta - Mantan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin dan Mantan Wakil Ketua Umum Komisi Olahraga Indonesia (KOI) Muddai Madang ditahan di rumah tahanan (Rutan) secara terpisah oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).

Alex Noerdin yang juga anggota DPR RI Komisi I Fraksi Partai Golkar ditahan di rutan KPK sedangkan Muddai Madang di Rutan Salemba cabang Kejagung. Keduanya ditahan selama 20 hari ke depan terhitung mulai hari ini Kamis 16 September 2021.

Alex Noerdin dan Muddai Madang ditetapkan Kejagung sebagai tersangka Terkait kasus korupsi Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Gas.

Terkait perkara tersebut, sebelumnya tim penyidik Kejagung juga sudah menetapkan dua orang jadi tersangka yaitu eks Direktur Utama PDPDE Provinsi Sumatra Selatan merangkap jabatan sebagai Direktur PDPDE Gas Caca Isa Saleh S dan eks Direktur Dika Karya Lintas Nusa (DKLN) merangkap Direktur PDPDE Gas yaitu A Yaniarsyah Hasan.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus pada Kejagung Supardi mengemukakan keduanya ditetapkan sebagai tersangka korupsi, setelah diperiksa sebagai saksi selama 6 jam oleh tim penyidik Kejagung terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi pembelian gas bumi oleh PT Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Provinsi Sumatra Selatan.


"Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan selama 20 hari ke depan," kata Supardi, di Kejagung, Kamis (16/9/2021).

Seperti diketahui, perkara korupsi tersebut berawal dari perjanjian jual beli gas bagian negara antara KKS Pertamina Hulu Energi (PHE), Talisman dan Pacific Oil dengan Pemprov Sumsel. Hak jual ini merupakan participacing interest PHE 50 persen, Talisman 25 persen, dan Pacific Oil 25 persen yang di berikan dalam rangka untuk meningkatkan pendapatan asli daerah Pemprov Sumsel. 

Namun, pada praktiknya, bukan Pemprov Sumsel yang menikmati hasilnya, tapi PDPDE Gas yang merupakan rekanan yang diduga telah menerima keuntungan fantastis selama periode 2011-2019. PDPDE Sumsel yang mewakili Pemprov Sumsel hanya menerima total pendapatan kurang lebih Rp38 miliar dan dipotong utang saham Rp8 miliar. Bersihnya kurang lebih Rp30 miliar selama 9 tahun.

Sebaliknya, PT PDPDE Gas mendapatkan banyak keuntungan dari penjualan gas bagian negara ini.  Diduga selama kurun waktu 8 tahun, pendapatan kotor sekitar Rp977 miliar, dipotong dengan biaya operasional, bersihnya kurang lebih  Rp711 miliar.

Editor: Beni Martha Daya