LIFESTYLE

Umbar Kemesraan di Medsos Tanda Lebih Bahagia?

media sosial kerap kali mendapati pasangan yang mengumbar kemesraan. Tak jarang ini membuat iri orang melihatnya. Namun apakah mereka yang mengumbar kemesraan di medsos benar-benar merasa bahagia? (foto : Ilustrasi)
media sosial kerap kali mendapati pasangan yang mengumbar kemesraan. Tak jarang ini membuat iri orang melihatnya. Namun apakah mereka yang mengumbar kemesraan di medsos benar-benar merasa bahagia? (foto : Ilustrasi)

I Jakarta - Di media sosial kerap kali mendapati pasangan yang mengumbar kemesraan. Tak jarang ini membuat iri orang melihatnya. Namun apakah mereka yang mengumbar kemesraan di medsos benar-benar merasa bahagia?

Selain digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang jauh atau menjalin pertemanan baru, media sosial juga kerap kali dimanfaatkan untuk membagikan berbagai momen. Salah satunya adalah momen kemesraan bersama pasangan.

Fenomena ini disebut dengan public display of affection (FDA). Ini bisa berupa membagikan foto atau video yang menampilkan keintiman, saling menulis hal yang mesra di kolom komentar, hingga mencantumkan status hubungan.

Fakta Seputar Kebahagiaan Pasangan yang Umbar Kemesraan di Media Sosial

Ada sejumlah penelitian yang mengungkap fakta unik terkait pasangan yang suka pamer kemesraan di dunia maya. Penelitian ini menyatakan, pasangan yang mengumbar kemesraan di media sosial mungkin bisa merasa lebih bahagia dibandingkan dengan pasangan yang tidak membagikan momen kemesraannya.


Meski begitu, tidak semua pasangan yang tidak atau jarang mengumbar kemesraan di media sosial itu tidak bahagia, ya.

Pasalnya, dalam penelitian ini juga disebutkan bahwa pasangan yang bahagia justru tidak terlalu fokus untuk mengumbar kemesraan di dunia maya. Mereka umumnya lebih memilih untuk menikmati kebahagiannya dengan cara menghabiskan waktu bersama untuk quality time.

Jadi, kesimpulannya, unggahan di media sosial tidak bisa menjadi tolok ukur yang ideal untuk menilai tingkat kebahagiaan pasangan ataupun seorang individu. Ini karena perasaan senang dan bahagia bersifat subjektif dan bisa dimaknai berbeda-beda oleh setiap orang.

Editor: Beni Martha Daya