SUMSEL 24

Sidang Korupsi Masjid Raya Sriwijaya. Ardani Ngaku Tak Pernah Ke Lokasi

Sidang dugaan korupsi Masjid Raya Sriwijaya yang menghadirkan terdakwa Mukti Sulaiman dan Ahmad Nasuhi digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, Kamis (30/9/2021) dengan menghadirkan empat saksi. (Foto : Rahmad Romli/infosumsel.id)
Sidang dugaan korupsi Masjid Raya Sriwijaya yang menghadirkan terdakwa Mukti Sulaiman dan Ahmad Nasuhi digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, Kamis (30/9/2021) dengan menghadirkan empat saksi. (Foto : Rahmad Romli/infosumsel.id)

| Palembang - Sidang dugaan korupsi Masjid Raya Sriwijaya yang menghadirkan terdakwa Mukti Sulaiman dan Ahmad Nasuhi digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, Kamis (30/9/2021) dengan menghadirkan empat saksi.

Keempat saksi Ardani yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (Kejati) Sumsel adalah Wakil Bupati Ogan Ilir Ardani, mantan Asisten Biro Kesra Ahmad Najib, mantan Kabiro Kesra Richard Cahyadi, dan Staf BPKAD Antonius.

Secara bergilir mereka dicecar jaksa terkait keterlibatan mereka di dalam kasus mangkraknya Masjid Sriwijaya. Yang pertama adalah Ardani yang saat itu menjabat sebagai Ketua Divisi Hukum dan Administrasi Lahan. SK jabatan itu sendiri didapat Ardani setelah pembangunan berjalan.

Meski diakui ada permasalahan lahan, diakui Ardani, dia belum pernah sama sekali mengecek lokasi pembangunan masjid tersebut.

"Saya tidak ke lokasi karena bukan tugas saya untuk ke lapangan," jawab Ardani saat menjawab pertanyaan JPU Roy Suryadi tentang alasannya tidak ke lokasi.


Namun Ardani hanya diam saja, saat jaksa mengatakan kalau Ardani harusnya ke lokasi karena tugasnya untuk menyelesaikan sengketa lahan. Selain Ketua Divii Hukum dan Administrasi Lahan, Ardani juga anggota dari Transparansi Anggaran Pengelolaan Daerah (TAPD) yang saat itu diketuai Mukti Sulaiman selaku Sekda Sumsel.

Jaksa Roy juga meminta keterangan Ardani terkait anggaran pembangunan Masjid Raya Sriwijaya tidak dibahas di TAPD, namun dimasukan dalam anggaran. Mengenai hal itu Ardani mengatakan kalau permohonan hibah itu harus ada proposal dan verifikasi.

Terkait tugasnya sebagai Ketua Devisi Hukum dan Administrasi Lahan, Ardani mengatakan jika dirinya mengetahui adanya masalah pada lahan tempat pembangunan masjid tersebut.

Namun, saat disingung oleh majelis hakim mengenai lahan bagian mana yang dipermasalahkan oleh warga sekitar, Ardani hanya menjawab dengan jawaban tidak tahu.

"Lahan tersebut sepengetahuan saya memang ada sebanyak 9 hektar milik pemerintahan provinsi sumsel, dan itu memiliki dokumennya," ujar Ardani

Saat dicecar lagi mengapa hal itu tidak diselesaikan. Wakil Bupati Ogan Ilir tersebut hanya diam dan menganguk saja. Dirinya hanya mengatakan pada lahan yang bermasalah seharusnya ada ganti rugi.

"Namun hingga saat ini belum ada penggantian tersebut pada masyarakat. Yang harusnya mengganti rugi adalah pihak yayasan," jelasnya.

Sementara Richard Cahyadi mengatakan, dalam rapat pembahasan Masjid Sriwijaya dia tidak pernah diundang. Namun dia tahu kalau ada sayembara gambar Masjid Sriwijaya.

"Siap!! Saya tahu karena dalam sosialisasi pembangunan Masjid Sriwijaya saya sering hadir," kata Richard.

Sementara Ahmad Najib menerangkan alasannya mau menandatangani dokumen pembangunan Masjid Sriwijaya karena sudah ada koordinasi dan diverifikasi oleh Biro Kesra dan Biro Hukum. Namun saat didesak apakah berkas yang ditandatangani Ahmad Najib itu tidak dilengkapi dengan dokumen lengkap, Ahmad Najib ngaku tidak tahu.

Najib juga memilih menjawab tidak tahu, apakah boleh kalau selama ia tidak pernah menerima pertimbangan pertanggungjawaban atas dokumen yang dia tandatangani.

Asisten Kesra ini juga mengaku tidak tahu apakah duit masuk untuk pembangunan Masjid Sriwijaya ke TAPD telah sesuai.

"Anda ini jangan cuma ngomong tidak tahu, tidak tahu terus. Anda kan telah berpengalaman dalam bidang pemerintahan. Masa tidak tahu prosedurnya," tegas jaksa, usai mendengar jawaban Najib.

Namun Najib langsung menjawab tegas tidak boleh saat jaksa menanyakan apakah bisa dana pembangunan pihak yayasan dialihkan ke rekening pribadi.

Sementara Najib sendiri saat dimintai komentarnya usai persidangan mengaku dia tidak tahu terlalu banyak soal pembangunan Masjid Sriwijaya ini, termasuk soal lelang karena dia merasa tidak dilibatkan.

"Yah bagaimana, memang saya tidak tahu," katanya sambil bergegas masuk ke mobil.

Sedangkan Ardani menegaskan kalau dalam kasus ini dia tidak menerima honor atau fee apapun. 

"Soal honor, soal fee. Tidak ada itu," ucapnya.


Video Terkait:
VIDEO : Kasihan Alex Noerdin Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
Editor: Jon Morino