OLAHRAGA

Makna Mendalam Obor Api PON Papua

Secara fisik obor api PON terdiri dari obor, lentera dan tungku, dengan spesifikasi nilai-nilai budaya lokal dari daerah yang menjadi tuan rumah pelaksanaan PON. (Foto : istimewa/infosumsel.id)
Secara fisik obor api PON terdiri dari obor, lentera dan tungku, dengan spesifikasi nilai-nilai budaya lokal dari daerah yang menjadi tuan rumah pelaksanaan PON. (Foto : istimewa/infosumsel.id)

| Papua - Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021 resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo pada Sabtu, (2/10/2021) hari ini. PON Papua yang gelar saat pandemic Covid-19 ini mengukir sejarah baru, dimana obor api PON XX Papua yang di arak dari kota Sorong Provinsi Papua Barat, hingga ke Kota Jayapura Provinsi Papua merupakan karya anak bangsa.

“Selama ini obor api PON selalu didatangkan dari luar Indonesia, tapi kali ini di PON XX Papua obor api PON diciptakan oleh anak bangsa sendiri untuk dipergunakan di PON Papua ini," kata Ketua pengarah obor api PON XX Papua, Carolus Boli, Sabtu (2/10).

Dia mengungkapkan, secara fisik obor api PON terdiri dari obor, lentera dan tungku, dengan spesifikasi nilai-nilai budaya lokal dari daerah yang menjadi tuan rumah pelaksanaan PON.

“Api Pekan Olahraga Nasional (PON) adalah salah satu bagian penting dalam upacara pembukaan yang dilakukan, secara umum merupakan simbol kehangatan dan semangat sportifitas, maka dalam desain obor, lentera, dan tungku yang digunakan selalu mengakomodir nilai-nilai budaya lokal dari daerah yang menjadi tuan rumah pelaksanaan PON," ujar Ketua pengarah kirab api PON XX Papua itu.

Sehingga berdasarkan hal tersebut, tutur Boli, maka seyogianya dalam desain obor, lentera dan tungku yang akan digunakan dalam rangkaian upacara PON XX Papua perlu mengakomodir kebudayaan yang dimiliki oleh suku-suku di tanah Papua, secara khusus di 5 wilayah budaya adat dalam Provinsi Papua.


Berikut motif dan filosofi obor api PON XX Papua:

Motif alam (gunung, gelombang dan ombak) dari wilayah budaya adat Mamta/Tabi, Mee Pago, dan La Pago, melambangkan simbol harapan dan berusaha/bekerja keras.

Motif lipan/lintah dari wilayah budaya adat Animha (Asmat, Kamoro, Malind Anim), melambangkan simbol kemenangan dan kemujuran dalam perang.

Motif ular, pucuk pakis, genemo dan kelapa, dari wilayah budaya adat Saereri, Domberai, melambangkan simbol keuletan dan masa muda/pertumbuhan.

Motif lingkaran/fouw Sentani, dari wilayah budaya adat Mamta/Tabi yang berbentuk kura-kura (ebeuw) dan burung taon-taon, melambangkan simbol kesuburan umur panjang dan sabar.

Editor: Jon Morino