SUMSEL RAYA

Ingin Harga Tinggi, Koptan Jangan Terikat dengan Tengkulak

Tampak warga di Kecamatan Kikim Timur tengah menimbang karet, Senin (11/10). 
(Foto: Ismail/infosumsel.ID)
Tampak warga di Kecamatan Kikim Timur tengah menimbang karet, Senin (11/10). (Foto: Ismail/infosumsel.ID)

| Lahat - Harga getah karet di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kian membaik, hanya saja, di tingkat petani hanya naik berangsur-angsur. Hal itu, dikarenakan dikuasai oleh tengkulak. Untuk itulah, apabila ingin harga karet tinggi, maka kelompok tani (Koptan) tidak terikat dengan tengkulak.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat, Vivi Anggraini SSTP Msi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Herman Suyanto membenarkan, untuk harga tengkulak di wilayah Eks Trans Kikim Tengah (Banyumas) kisaran Rp 7.000 hingga Rp 7.500 perkilogram.

"Untuk Kikim Timur Rp 8.000, di Eks Trans Senabing unit 1 sampai 5 dihargai Rp 8.000 - Rp 8.500, di Eks Trans Merapi Timur (Lematang Jaya) berkisar Rp 9000 - Rp 11.000, dan di Pulau Panggung, Pajar Bulan Rp 9.500," terangnya, Senin (11/10).

Dirinya menambahkan, dari harga yang disebutkan diatas, memang masih jauh jika dibandingkan dengan Kota Prabumulih, OKI, OI, dan Banyuasin.

"Memang pihaknya terus mengupayakan kenaikan, sehingga petani karet benar-benar sejahtera," ungkap Herman.
Herman menerangkan, terpenting kelompok tani (Koptan) jangan terikat dengan tengkulak. 


Melainkan diarahkan permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) baik di Bank BRI, Mandiri, SumselBabel dan BNI.

"Dengan demikian, dapat menguatkan orientasi pasar supaya hasil panen, menunggu harga yang lebih baik, lalu menghidupkan kembali UPPD dan meningkatkan kualitas produk bokar, kebersihan dan larutan pengentalannya," bebernya.


Video Terkait:
VIDEO: Deru Ungkap Harga Karet Naik
Editor: Intan Sriwidari