NASIONAL

Luhut Sebut Nilai Pasar Game Potensial, Sayang 97 Persen Impor

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan 
(Foto: Istimewa)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: Istimewa)

| Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan potensi pasar game mencapai Rp 24 triliun.

Menurut Luhut Binsar, potensi game yang begitu besar ini perlu dikembangkan agar bisa menarik manfaat sebesar-sebesarnya bagi Indonesia.

"Game industry ini menurut saya sangat penting. Kemarin sudah kami rapatkan dan game ini rupanya mempunyai market hampir Rp 24 triliun, tahun ini saja. Ini 97 persennya kita impor," kata Luhut Binsar dalam peresmian Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) Kaltim di Samarinda, yang dipantau secara daring dari Jakarta, Selasa (12/10).

Menurut Luhut Binsar, dalam rapat beberapa waktu lalu, pemerintah siap mendorong industri game bisa maju secara ekonomi dan harus memiliki konten positif.

"Kemarin sudah kami rapatkan, bandwidth-nya akan kami kecilkan. Jadi, semua buatan dalam negeri," ujar purnawirawan TNI berpangkat jenderal itu.


Ketua Tim Gernas BBI itu mengatakan konten game diharuskan memiliki konten budaya Indonesia. Misalnya, soal Pancasila, kebersamaan hingga kenegaraan.

"Karena dalam UU mengenai game ini juga sudah disebutkan bahwa harus diisi konten mengenai Pancasila, kebersamaan, dan kenegaraan, UUD 45 dan sebagainya. Itu menyatukan kita," imbuhnya.

Luhut Binsar mengatakan game jangan menjadi addict yang merusak anak, tetapi justru mendidik dan membangun persatuan, kesatuan, seperti open mind, open heart, open will.

“Itu yang kami dorong dengan pesan-pesan kebersamaan, kita bisa hidup berbeda tetapi tidak perlu berkelahi," kata Luhut Binsar.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengusulkan komponen digital seperti game online, bisa masuk dalam penghitungan sebagai salah satu komponen penyusun total kandungan dalam negeri (TKDN).

"Sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo yaitu harus ada transformasi ekonomi menuju Industri 4.0, kita juga harus mengakselerasi pertumbuhan industri digital. Karena itu saya mengusulkan produk digital bisa menjadi perhitungan TKDN sehingga karya digital anak negeri bisa masuk, dikenal dan akhirnya digunakan," ujar dia beberapa waktu lalu.

Penghitungan terhadap berapa persen komponen nasional selama ini memang hanya didasarkan pada komponen fisik, tambahnya, untuk produk handphone misalnya, komponen yang dihitung adalah kaca, IC, cassing dan lain-lain.

Sementara program yang terkandung dalam handphone itu sendiri tidak dihitung. Industri digital di tanah air sangat berkembang, dan merupakan industri yang sangat produktif dari segi ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan sebagainya.

"Karena itu, masuknya komponen digital dalam perhitungan TKDN akan bisa mengakselerasi kreativitas anak negeri dalam mengembangkan industri digital," kata Wamendag.

 

Editor: Intan Sriwidari