EKONOMI

Harga Bensin AS Meroket, Batubara Rekor Tertinggi China

Ilustrasi BBM (Foto: Istimewa)
Ilustrasi BBM (Foto: Istimewa)

| Jakarta - Harga bensin di Amerika Serikat (AS) meroket hampir dua kali lipat di tengah krisis energi. Kenaikan harga tak lepas dari mulai meningkatnya permintaan seiring pelonggaran pembatasan kegiatan masyarakat.

Selasa (12/10), biaya energi tercatat sangat murah pada musim semi 2020 lalu. Hal ini karena jalan dan bandara hampir kosong ketika kasus penularan covid-19 terus melonjak.

Namun, permintaan energi mulai pulih ketika sejumlah negara mulai melonggarkan aturan pembatasan di ruang publik. Namun, kenaikan permintaan tak diiringi dengan peningkatan produksi.

Tercatat, harga bensin naik dua kali lipat ke kisaran US$3,27 per galon setelah sempat anjlok ke level US$1,77 per galon pada April lalu. Dalam sepekan kenaikan harga bensin mencapai 7 sen. Hal ini akan membuat inflasi semakin meningkat, menekan anggaran keluarga di AS, dan merugikan nasib politik Presiden Joe Biden.

Tak hanya bensin, harga gas alam meningkat tajam di Eropa dan Asia. Hal ini membuat pembangkit listrik dan pabrik beralih ke sumber bahan bakar yang lebih murah untuk listrik, yakni minyak mentah.


"Ini hanya mencoba untuk menjaga lampu tetap menyala," kata Analis Minyak Utama Kpler's untuk AS Matt Smith.

Sementara itu, harga minyak AS sempat meroket US$120 per barel setelah sempat jatuh ke level US$40 per barel pada April 2020 lalu.

Per Senin (11/10), harga minyak AS berada di area US$80 per barel. Hal ini membuat warga AS kaget ketika mengisi bensin. Pasalnya, kenaikan harga minyak berdampak pada harga bensin.

Sementara, Citigroup memproyeksi harga minyak Brent naik menjadi US$85 per barel pada kuartal IV 2021. Lalu, minyak diproyeksi tembus US$90 per barel pada waktu-waktu tertentu.

Perusahaan itu bahkan meramalkan Eropa dapat kehabisan bensin pada musim dingin Februari 2022 mendatang.

Lebih lanjut, harga batu bara juga ikut meroket mencapai rekor tertinggi di China yang sedang mengalami krisis listrik.

Hal ini membuat pemerintah setempat membatasi penggunaan listrik.

 

Editor: Intan Sriwidari