EKONOMI

Sektor Tertinggi Penyumbang Ekonomi Sumsel

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Hari Widodo saat konferensi pers Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Hotel Arista Palembang, Rabu (24/11/2021)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Hari Widodo saat konferensi pers Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Hotel Arista Palembang, Rabu (24/11/2021)

I Palembang - Bank Indonesia (BI) menyebutkan tiga sektor paling tinggi yang menjadi pemicu naiknya pertumbuhan ekonomi Sumsel di tahun 2022 mendatang. Ketiga sektor tersebut yakni Sektor Konsumsi Rumah Tangga, Pertanian serta lapangan usaha berupa tambang dan penggalian serta produksi kertas.

“Konsumsi rumah tangga berada diangka 58 sampai 60 persen. Untuk itu, kita harus menjaga agar jumlah konsumsi rumah tangga tidak menurun dengan cara memperhatikan daya beli masyarakat,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Hari Widodo dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Hotel Arista Palembang, Rabu (24/11/2021).

Dirinya memprediksi ekonomi SUmsel mengalami kenaikan sebesar 3,5 persen di Triwulan keempat 2021. Setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan di Triwulan ketiga. Dari sebesar 5,7 persen menjadi 3,9 persen.

“Sejumlah indikator menunjukkan perekonomian akan membaik di antara 2,66 persen sampai 3,5 persen. Kami akan upayakan stabil. Sehingga kita tetap berada dalam perkembangan zona ekonomi positif,” ujarnya.

 Dari sisi inflasi, Sumsel tercatat hanya mengalami 1,84 persen. Angka itu naik dari  triwulan sebelumnya yang hanya 1,24 persen. Meski ada kenaikan, Hari menjelaskan jika kondisi tersebut cenderung stabil. “Untuk tahun ini inflasi Sumsel relatif terkendali karena ditengah pandemi selain kita menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga dan komunikasi,” terangnya.


Sementara itu, Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan, pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, masih ada beberapa kebijakan yang perlu dilakukan evaluasi. Seperti serapan bantuan sosial. Sebab, belum memberikan dampak terhadap penurunan angka kemiskinan.

 “Salahnya dimana. Nah, ini yang perlu kita kaji lagi,” tandas dia

Editor: Beni Martha Daya