SUMSEL 24

Senpira Sebagai Jaminan Hutang Sabu, Disimpan di Dalam Tanah

Ayozaki diamankan di Polda Sumsel, Sabtu (4/12) ( Foto: Pahmi Ramadan/infosumsel.ID)
Ayozaki diamankan di Polda Sumsel, Sabtu (4/12) ( Foto: Pahmi Ramadan/infosumsel.ID)

| Palembang - Uang pembelian sabu pelanggannya tidak kunjung di bayar, tersangka Ayozaki (42) menerima satu unit senpi rakitan jenis revolver warna hitam bergagang warna silver sebagai jaminan.

Diketahui senpi tersebut, disimpan tersangka di dapur dalam tanah rumahnya di Dusun III, Desa Tebat Agung, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim.

Kasubdit III Jatanras Polda Sumsel Kompol CS Panjaitan mengatakan, berawal saat anggotanya mendapatkan laporan dari masyarakat.

"Berkat laporan tersebut kita langsung bergerak cepat, sesampainya di rumah tersangka kita menemukan senpira tersebut yang di simpannya di dapur dan di kubur di dalam tanah. Akibat kejadian itu tersangka kita bawa ke Polda Sumsel," ujarnya Sabtu (4/12).

Penjaitan menjelaskan, dari pengakuan tersangka bahwa senpi tersebut merupakan jaminan dari seseorang karena orang tersebut belum membayar hutang sabu kepada tersangka.


"Menurut pengakuan tersangka, bahwa orang tersebut punya hutang Rp 1.5 juta karena tidak kunjung membayar sabu yang di belinya tiga bulan lalu, kemudian tersangka menerima senpi tersebut sebagai jaminan," jelasnya.

Akibat ulahnya tersangka dikenakan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat No. 12 tahun 1951.

"Untuk bukti yang kita amankan yakni satu pucuk senjata api rakitan jenis revolver warna hitam bergagang warna silver," tutupnya.

Sementara itu tersangka Ayozaki mengatakan  senpi tersebut baru di pegangnya selama tiga bulan.

"Jadi senpi itu merupakan jaminan karena orang yang beli sabu dengan saya sebanyak 2 Ji tidak kunjung membayarnya dengan uang," Kata kurir sabu ini.

Ayozaki menjelaskan, ia tidak pernah membawa atau menggunakan senpira tersebut.

"Senpira itu hanya sebagai jaminan, tidak pernah saya bawa hanya saya kubur di dapur di dalam tanah rumah rumah saya, senpira itu juga tidak ada pelurunya," tutupnya.

 

Editor: Intan Sriwidari